Kedudukan Influencer Dalam Internalisasi Patriotisme Highproductive Di Kalangan Generasi Milenial

Oleh Tajul Fuzari*

 

Generasi milenial hari ini dianggap tuna-sejarah (ahistory), hal ini dipicu karena mereka jauh dari masa perjuangan, dan pengorbanan. Generasi hari ini hanya menjadi penikmat kemerdekaan. Nilai patriotis tidak lagi tercermin dari wajah milenial, karena ruh dari sejarah tidak lagi mendapat tempat yang strategis. Kondisi sejarah di negara lain menjadi keseharian yang dijaga dan dilestarikan, sementara di Indonesia gedung tua dianggap tidak ada nilainya dan dihancurkan begitu saja. Salah satu fakta ditemukan di Aceh, makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir berada antara toilet hotel dan lapak bakso.

Generasi milenial tidak lagi memandang masalah ini sebagai sesuatu yang vital. Ini semua dipicu oleh penyajian sejarah yang kurang kreatif, sehingga tidak mudah dikonsumsi dan dihayati untuk memotivasi dan menumbuhkan jiwa patriotik di kalangan generasi milenial.

Generasi milenial sedang digiring oleh dunianya untuk berkiblat pada hal-hal yang bersifat hedonis-materialis sebagai idolanya, seperti: gamer, selebgram, tiktoker, artis, aktris, actor dan musisi dengan segala atribut yang mengitari mereka. Setiap  tingkah laku dan pola hidup yang dilihat menjadi pedoman hidup sehari-hari mereka. Pola laku ini dalam istilah generasi millenial disebut dengan Influencer.

Influencer memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam struktur kemasyarakatan, bahkan kalangan istana kepresidenan mengucurkan dana 90,45 miliar demi belanja jasa influencer untuk dijadikan participative strategy.

 Ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi sangat mempengaruhi perilaku khalayak dan kehadiran media sosial telah memuat ekosistem dunia digital. Hal ini mengindikasikan perlunya Influencer sebagai senjata ampuh untuk menjamin jiwa patriotisme dikalangan milenial, karena pengaruh besar yang dibawa sangat cepat untuk dicontoh dan diikuti oleh pengikutnya yang jutaan.

Jalinan komunikasi intens dan rasa kebersamaan serta saling tolong menolong jika diprakarsai oleh influencer, maka bisa berjalan dengan sangat cepat dan kuat, highproductif dalam berbagai program aktivasi, hingga menjangkau hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, seperti mengambil peran dalam menggalang dana pada masa pandemic covid-19, yang terbukti dapat mengalahkan peran pemerintah.

Menumbuhkan sikap tolong-menolong akan mampu mempersuasi nilai patriotisme dikalangan milenial, terutama rela berkorban demi bangsa dan negara,  seperti: ajakan influencer Ariel Noah untuk mencintai produk lokal.; Selebgram Rachel Vennya berhasil mengumpulkan 4,1 miliar untuk korban Covid-19 dengan 73.179 donatur dalam kurun waktu 2 hari saja.; dan selegram Fadil Jaidi bersama pengikutnya mampu mengumpulkan dana 7 miliar dari 2 miliar yang ditargetkan untuk membantu saudara muslim di tanah Palestina.

Potensi ini haruslah dikelola dengan baik dan harus disadari bahwa setiap masa memiliki juru bicaranya masing-masing. Tantangan patriotisme hari ini sangatlah besar, di mana generasi milenial tidak lagi memiliki rasa rela berkorban terutama demi bangsa. Hal ini disebabkan karena kurangnya sosok yang mampu menstimulasikan jiwa kepahlawanan. Merevitalisasi jiwa patriotisme di kalangan generasi milenial tidak boleh berhenti pada diskusi semata, namun harus dituangkan dalam bentuk aktualisasi melalui sikap rela berkorban dan tolong-menolong.

Berdasarkan fenomena di atas, makalah ini ingin mengkaji tentang kedudukan influencer dalam internalisasi patriotisme highproductive dikalangan generasi muda perspektif Alquran. Tujuan tulisan ini menawarkan strategi internalisasi nilai patriotisme highprodauctive dikalangan generasi millennial dengan memanfaatkan peran dan kedudukan influencer dalam membangun kerjasama dan saling tolong menolong. Melalui studi tematik, makalah ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap upaya menumbuhkan semangat gotong royong dan rasa saling tolong menolong, sehingga semangat patriotisme highproductive dapat tumbuh dan berkembang ditengah generasi milenial

Influencer adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi, mengubah opini bahkan mengubah perilaku orang lain secara online, dan biasanya dilakukan melalui social networking atau social media.

Perubahan ini dapat terjadi pada setiap aspek kehidupan seperti ideologi. Penting untuk dicatat bahwa para influencer bukan hanya dapat dijadikan sebagai alat pemasaran semata. Lebih dari itu, mereka juga merupakan asset social relationship yang dapat diajak berkolaborasi untuk mencapai tujuan tertentu.

Influencer memberikan dampak yang besar bagi masyarakat khususnya para pengikutnya. Melalui media sosial, influencer juga mengubah dan membawa kemudahan bagi pola komunikasi masyarakat. Tak hanya disebut sebagai opinion leader, influencer juga dikatakan sebagai seorang aktivis, karena mereka dapat memberikan dampak yang luas, aktif pikiran dan menjadi trendsetter bagi para pengikutnya.

Melalui personal branding, digital influencer mampu membangun dan memelihara hubungan baik dengan banyak pengikutnya di media sosial, serta memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi, bersosialisasi hingga menghibur dengan ratusan ribu hingga jutaan pengikut, memungkinkan influencer untuk mendorong pengambilan keputusan kepada para pengikutnya, baik keputusan berpendapat, bersikap hingga berprilaku. Hal tersebut tentunya disebabkan karena influencer mampu membangun keakraban dengan para pengikutnya dan menjaga kredibilitas mereka

Secara umum influencer memegang 3 peran utama dalam dunia digital, yaitu to inform, to persuade, dan to entertain. Peran to inform berkaitan dengan peran influencer dalam menyampaikan informasi. To Persuade berkaitan dengan usaha dan kemampuan influencer dalam mempengaruhi dan meyakinkan para pengikutnya untuk menerima dan mengikuti sudut pandangnya, mengadopsi prilakunya atau turut merasakan perasaan yang dirasakannya dan to entertain, artinya digital influencer berperan dalam menghibur followers-nya. Peran ‘to inform’ dan ‘to persuade’ yang dimiliki oleh influencer inilah yang merupakan langkah yang dapat diambil sehubungan dengan upaya penguatan dan internalisasi sikap patriotisme di tengah masyarakat, khususnya generasi milenial.

 

Patriotisme Highproductive

Sri kartini menjelaskan bahwa kata patriotisme berasal dari kata patriot dan isme, artinya sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) patriotisme yaitu sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya semangat cinta tanah air.

Patriotisme itu juga tidak semata-mata berbicara jihad namun semangat patriotisme dapat lahir dari konsep tolong-menolong (ta’awun), Adapun kata highproductive merupakan term yang menjadi kontruksi dari penulis sendiri, hasil dari reflektif dan pengkajian empiris bahwa adanya suatu fenomena didalam ruang public, yaitu setiap orang memiliki kesadaran untuk bergotong royong karena melihat keterpurukan didepan mata. Fenomena ini juga terjadi didalam struktur kemasyarakatan dengan sangat efektif dan efisien bahkan memberikan presentase tinggi, yang dapat dianggap melebihi produktifitas yang ditargetkan. yang dimaksud dengan patriotisme highproductive adalah jiwa tolong menolong, rela berkorban  yang menuaikan hasil besar dalam berbagai misi dan aktifasi kemasyarakatan terutama kalangan muda-mudi milenial yang mudah terhubung di social media.

Influencer memiliki kedudukan yang sangat srategis dikalangan milenial, karena pengaruh yang dibawa dapat serta merta ditiru dan digugu oleh pengikut, terlebih pengikut yang fanatik. Influencer ini terdiri dari tiga kasifikasinya yaitu nano, micro dan makro influencer sesuai dengan followernya, mereka ini bisa berasal dari kalangan mana saja, bisa seorang selebritas, atlet maupun professional.

Influencer benar-benar berfungsi sebagai koneksi pamungkas individu dengan pengikut yang signifikan di sosial media yang mampu membujuk pengikutnya, memotivasi, mengarahkan atau memikat suatu trend bahkan memengaruhi keputusan orang lain karena otoritas, pengetahuan, posisi atau hubungan mereka dengan audiensnya.

Influencer dapat dikatakan ibarat seorang aktivis, yang terhubung dengan baik, berdampak, aktif pikiran, dan merupakan trendsetter bagi para pengikutnya. Influencer didefinisikan sebagai individu yang dianggap sebagai Pemimpin Opini di platform media sosial dalam topik tertentu, seperti: kecantikan, makanan, gaya hidup, atau fashion

Melalui keterbukaan mereka dengan konsumen, influencer memiliki kredibilitas dan pengaruh sosial yang tinggi. Hal inilah yang membuat fenomena influencer ini begitu sukses dan berdampak jangka panjang serta berpotensi pertumbuhan viral. Di mana hal-hal yang ditargetkan sebagian besar khalayak, influencer memiliki kemampuan unik untuk menargetkan pemirsa yang sampai sekarang belum terjangkau.

Influencer sering dianggap sebagai panutan, penggunaan influencer berkontribusi pada proses pembangunan sebuah brand, karena influencer merupakan sosok individu yang memiliki pengaruh langsung dan mampu mengerakkan ratusan bahkan jutaan pengikutnya. Oleh karena itu, tentunya potensi peran ini dapat diarahkan untuk meningkatkan dan menjamin jiwa patriotisme dikalangan anak muda milenial, terutama melalui aktualisasi sikap saling bekerjasama untuk tolong-menolong di berbagai keadaan yang terpuruk ditengah masyarakat khususnya Indonesia.

Sebagaimana bahwa rasulullah telah menjadi figur yang sangat berkopeten dikalangan manusia sebagaimana dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ…………

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”

Ayat ini berbicara tentang Nabi Muhammad SAW yang merupakan representasi manusia sempurna yang multi-talenta. Selain sukses dalam melaksanakan misi risalah ilahi di muka bumi, pada saat yang bersamaan beliau juga menjadi sosok yang paling berkompeten di kalangan manusia.

Quraish Shihab menyebutkan bahwa tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, merupakan prinsip dasar dalam menjalin Kerjasama dengan siapapun selama tujuannya adalah kebajikan dan ketakwaan.

Dalam bekerjasama Allah memberikan motivasi dan dorongan untuk melakukan kerjasama, karena ada jaminan bahwa Allah akan ikut serta memberikan pertolongan, penjagaan dan keberkahan di dalamnya. Sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ : أَنَا ثَالِثٌ الشَرِيكَينِ مَالَم يَخُن أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَاخَانَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ خَرَجتُ مِن بَينِهِمَا

“Allah swt. berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah).

Kerjasama dalam wujud saling meringankan, dimanapun dan kapanpun terutama melalui sosial media yang dapat mengantarkan kalayak ramai untuk berkolaborasi dalam berbagai bidang aktivasi seperti; mencintai produk local, ajakan menjadi pemuda yang produktif, mengharumkan nama bangsa dengan kreatifitas karya, dan misi tolong-menolong terhadap  musibah dalam negeri,  sehingga dapat memicu timbulnya rasa kesetian yang mendalam terutama pada bangsa, ini merupakan wujud dalam mempermudah internaliasi jiwa kepahlawanan dan rela berkorban ditengah kalangan generasi milenial.

Rela berkorban.

Rela Berkorban, adalah bersedia dengan ikhlas, senang hati, dengan tidak mengharapkan imbalan dan mau memberikan sebagian yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya. hidup bermasyarakat diperlukan adanya kesediaan dengan ikhlas hati untuk memberikan sesuatu yang kita miliki untuk keperluan orang lain atau masyarakat.

Jadi rela berkor ban yaitu tindakan yang menolong orang lain tanpa berharap imbalan dan mau memberikan sesuatu yang dimilikinya dengan ikhlas. Rela berkorban harus diarahkan untuk kepentingan bangsa dan negara, menempatkan persatuan, kesatuan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan; berjiwa pembaharu; tidak kenal menyerah, dan sikap-sikap positif lainya. Jika sikap rela berkorban diterapkan oleh semua orang, maka banyak masalah yang akan terpecahkan dan akan tercipta banyak kebaikan di penjuru  negeri. Selaras dengan sikap rela berkorban sahabat Ansar menuai pujian dari Allah swt. melalui firman-Nya, Surat al-Hasyr ayat 9:

.....وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surat al-Hasyr ayat : 9).

Ayat ini turun berkenaan dengan pembagian harta fai’ dari kalangan Bani Nadhir. Sahabat Ansar meminta kepada Nabi Saw. untuk membagi tanah miliknya, yang kelak ingin mereka berikan pada Kaum Muhajirin. Mereka menyatakan kerelaannya jikalau Muhajirin juga dapat bagian. Lalu, turunlah ayat ini, sebagai bentuk pujian Allah kepada kaum Ansar yang rela memberikan apa yang sebenarnya ia miliki atas dasar rasa cinta pada kaum Muhajirin

Kerelaan Sahabat Ansar dilatari oleh rasa cinta kasihnya kepada kaum Muhajirin, yang sudah dideklarasikan oleh Nabi Saw sendiri sebagai saudara mereka. Sehingga, mereka rela mengorbankan apa saja demi kepentingan saudaranya.

Tidak hanya itu, sikap rela berkorban Sahabat Ansar juga tampak tatkala mereka mendahulukan kepentingan orang lain, meski mereka sendiri pun sangat butuh. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita untuk rela berkorban meski dalam keadaan sangat penting demi mencapai kebaikan yang lebih besar. Dari ayat tersebut, setidaknya kita dapat mengambil empat poin tentang pengorbanan. 

Pertama, rasa cinta kasih penting untuk dijadikan alasan berkorban. Karena tidak ada pengorbanan sebagai manifestasi kesetiaan kecuali didasari oleh perasaan cinta.

Kedua, ikhlas atau berkorban tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh penggalan ayat wa la yajiduna fi sudurihim hajat. Ibnu ‘Asyur dalam at Tahrir wat Tanwir memaknainya dengan tidak membiarkan kepentingan pribadi mencampuri kepentingan bersama. Sehingga, pengorbanan tidak dilandasi oleh hawa nafsu belaka, melainkan murni kepentingan bersama 

Ketiga, berkorban dengan penuh kerelaan. Sebagaimana ketika sahabat Ansar  meminta Nabi Saw. untuk membagi rata tanah untuk mereka dan Muhajirin. Mereka meminta Nabi dengan benar-benar rela.

Keempat, berkorban meski dalam keterbatasan. Ini bisa dibilang sebagai titik nadir bagi seseorang yang hendak berkorban. Ketika ia dihadapkan berbagai pilihan, tetapi yang harus ia pilih ialah melepas segala tanggungannya walau sangat butuh untuk diselesaikan sekalipun. Hal ini demi mewujudkan kebaikan yang berdampak lebih besar.

Berkorban dengan rela dan ikhlas walau dalam keadaan terbatas seyogyanya kita tancapkan pada diri kita. Agar kelak, derap langkah yang kita pilih senantiasa maslahah untuk masyarakat. Kita harus sadar bahwa semua memiliki tuntutan untuk berkorban. Orang yang berpegang dengan kebenaran dituntut untuk berkorban, orang yang berpegang dengan kebatilan juga dituntut untuk berkorban, intinya semua kita di dunia penuh dengan pengorbanan, hanya tinggal untuk siapa kita berkorban.

Tanggung Jawab bersama

Berbicara tentang tanggung jawab manusia menurut Alquran, memperhatikan surat al-Mukminun ayat 115 ditemukan bahwa manusia adalah makhluk fungsional dan bertanggungjawab atau dengan kata lain penciptaan manusia bukanlah sebuah kesia-siaan. Tanggung jawab manusia tersebut meliputi tanggung jawab terhadap Allah Sang Pencipta, diri pribadi, keluaga, masyarakat, bangsa dan Negara, serta tanggung jawab terhadap alam.

Penyebutan sikap bertanggung jawab ditemukan dalam firman Allah lainnya dalam Surah al-Muddatstsir ayat 38:

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya” (QS. al-Muddatstsir ayat 38).

Pada ayat diatas menggunakan kata kasaba yang menunjukkan apabila perbuatan yang dimaksud dilakukan oleh anggota badan manusia. Kata kasaba yang digunakan bermakna atas semua perbuatan, baik yang manfaat atau mudharatnya dirasakan oleh pelaku maupun selainnya. Maka maksud kasaba pada ayat ini mencangkup amal-amal baik dan buruk.

Sikap tanggung jawab cukup penting untuk diperhatikan. Sikap ini akan mencetak generasi yang mau merelakan dirinya demi bangsa dan demi kemaslahan yang lebih besar, karena seorang yang bertanggung jawab memiliki komitmen penuh atas apa saja yang dirasakan, juga menuntut  profesionalitas dan totalitas dalam melakukan sesuatu. Sehingga, ia tidak melepaskan tanggung jawab dengan sembarangan.

Tanggung jawab yang diharapkan utamanya yaitu pada influencer itu sendiri, karena dirinya adalah pemimpin dalam misi internalisasi patriotisme highproductive ini, sebagai figur yang digugu dan ditiru haruslah, mampu menjaga reputasinya. Selanjutnya tanggung jawab serupa juga harus melekat pada setiap generasi milenial karena mereka merupakan nano influencer(100-1000 follower) yang dapat mempengaruhi teman-temannya walaupun dalam jumlah yang kecil. Sehingga, kompleksitas dalam   sebuah misi tolong-menolong dapat berjalan dalam bingkai saling percaya dan awet sampai kapanpun.

Demikian tiga nilai penting yang dapat menjamin tumbuhnya jiwa kepahlawanan dan rela berkorban, mengantungkan kepentingan pribadi demi kemaslahan yang lebih besar sehingga bangsa ini akan dapat terus tumbuh melalui anak-anak muda milenial yang berjiwa patriotik, melepaskan keterpurukan yang terjadi di tengan bangsa Indonesia.

Proses internalisasi konsep patriotisme highproductive di kalangan milenial dapat distimulasikan dengan cara memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang telah dibahas sebelumnya pada ayat ta’awun (saling tolong menolong) dengan penuh tanggung jawab. Pembentukan  jiwa cinta tolong-menolong ini haruslah diarahkan kepada aktivitas positif  dan hal-hal yang diridhai oleh Allah Swt, sehingga keberlangsunya dijamin sukses oleh Allah karena Allah berada di antara mereka-mereka yang berkolaborasi, untuk menuaikan sebuah misi aktifasi yang kemaslahannya berdampak besar (highproductive).

Hadirnya Influencer sebagai figur yang digugu oleh pengikutnya yang ratusan bahkan jutaan di kalangan milenial, tentunya komunitas ini haruslah dikelola dengan sangat baik walaupun pada ranah social networking. karena tidak menutup mata bahwa potensi ini juga dapat bias untuk berbalik haluan, sehingga sangat dibutuhkan pribadi-pribadi (influencer) penuh tanggung jawab dan kendali yang sesuai konsep pandangan Alquran.

Influencer mampu mempersuasi pengikutnya seperti; menggalang dana untuk korban bencana, ajakan hijrah, ajakan mencintai produk lokal, ajakan mengikuti pengajian, ajakan untuk menjadi generasi yang kreatif, ajakan untuk berkolaborasi dengan pemerintah, ajakan untuk amar’ ma’ruf nahi mungkar, dan lain sebagainya, tentunya ini akan teraktualisasikan dengan cepat dan potensi viral sehingga syiar dari yang dilakukan juga mempu mempersuasi khalayak yang belum dapat di jangkau dipelosok bangsa bahkan dunia.

Sudah selayaknya, sebagai seorang muslim yang baik, untuk mengamalkan segala nilai-nilai yang diajarkan di dalam Alquran. Karena segala bentuk kerusakan dan kemaksiatan, akan mudah menghampiri kepada seseorang yang jauh dari Alquran. Karnanya sejatinya Influencer harus menjalankan misi proferktik kenabian. Pola laku dan tidakannya harus terpuji, selalu memancarkan energi positif untuk kemajuan negeri. Takbir

 

*Penulis adalah Guru Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh, Peserta Pelatihan Penulisain Ilmah yang dilaksanakan oleh Disdik Dayah Banda Aceh sejak 15-17 Agustus 2022 di Kyriad Hotel