Uang Saku Menipis Santri Tetap Optimis

Oleh Hasvi Harizi*

Bahagia itu sederhana. Saat seorang santri berhasil mendapatkan nilai yang baik, maka dia akan bergembira. Bersyukur karena upayanya belajar keras hingga larut malam, setiap malam, berbuah baik. Kegembiraan ini lantas ditularkan kepada keluarga. Lewat sambungan telepon, santri mengabarkan kepada orang tua bahwa dia mendapatkan nilai yang bagus. Sembari meminta doa agar dia diberikan kesehatan, berguna bagi nusa dan bangsa, dan, kalau orang tua berbaik hati, mengirimkan sedikit “uang jajan tambahan”. Sederhana.

Ada juga kelompok santri yang tidak terlalu pintar dalam urusan akademis. Bahkan mereka adalah orang-orang yang tidak berani berkhayal untuk menjadi juara di kelas. Mereka hanya merasa senang dan bahagia hidup di asrama pesantren yang serba terbatas.

Namun secara umum, kehidupan para santri di pesantren-pesantren di Aceh sangat sederhana. Mereka tidak tinggal di ruang bilik ber AC dengan kondisi dingin 18 derjat celcius, para santri dayah menikmati apa adanya.

Menikmati saat kantong berisi, terutama, pada tanggal-tanggal muda. Namun tak terlalu bersedih saat stok kantong menipis dan habis. Bagi mereka, yang penting bisa tertawa sampai kain sarung yang mengikat pinggang terlepas. Ada juga yang tertawa sampai gigi copot, hehe..

Cara santri mendapatkan kebahagiaan juga sangat sederhana. Mereka bisa tertawa karena seorang teman salah melantunkan hafalan. Mereka juga bisa menangis tersedu-sedu karena rindu pelukan ibu saat hanya mendengarkan suara ibu dari telepon.        Syahdan, pada suatu malam, usai mengajar, saya berbicang ringan dengan seorang santri. Saya bertanya tentang cita-citanya. Dia menjawab, “Ingin mandiri secara finansial.”

Lantas saya kembali bertanya, “Kenapa?”. Tanpa berpikir panjang, si santri menjawab, “Biar saya bisa berhenti berkerja.” Saya kembali bertanya, “Apa yang terjadi jika kamu berhenti berkerja?” “Saya bisa bersantai dan hidup nyaman,” kata si santri.

Saya berkata, “Sekarang bayangkan kamu mandiri secara finansial. Apa yang kamu rasakan?” Dia tersenyum dan menjawab, “Damai dan bahagia”.

Lantas saya berujar, “Kenapa kamu tidak bisa berbahagia sekarang? Apa yang kau tunggu sebenarnya? Anda dapat berbahagia dan damai sekarang.” Dia memandang saya. Wajahnya penuh dengan tanda tanya.

Saya berkata kepadanya bahwa banyak orang bingung dengan emosi mereka sendiri dan perasaan tidak tercipta karena seseorang memiliki suatu benda. Perasaan muncul dari sesuatu yang tidak terlihat dan datang dari dunia lain. Ia tercipta dari dunia pikiran, dari dunia pemahaman.

Inilah disebut sebagai “alam besar”. Semua hal yang tak terlihat orang lain, yaitu pikiran, perasaan hati, iman, jiwa dan ruh, adalah bagian dari alam besar itu. Bagaimana mengartikan realitas dunia, itulah yang membuat kita menjadi berbahagia.

Jika saat ini kita berusia 45 tahun dan merasa seharusnya menjadi jutawan saat berumur 40 tahun, kita pasti merasa gagal. Di tempat yang lain, ada seorang pekerja keras dari kelas menengah yang berbahagia. Orang tuanya hanyalah petani dari desa kecil di dekat Pango Raya. Dia merasa telah mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang diimpikan sewaktu muda dulu.

Dari dua cerita ini, satu hal yang pasti adalah penyebab kebahagiaan itu atau tidak bahagia adalah pengharapan. Jika kita berharap hari ini akan cerah, lantas mendadak hujan, kita bisa jadi depresi. Karena sebenarnya kita sadar bahwa kita tak punya kekuatan apapun untuk membuat hari menjadi selalu cerah atau sebaliknya.

Tentang jalan menuju kedamaian dan kebahagiaan, sufi agung, Syaikh Abdul Qadir Jailani memberi resep jitu, “Berhentilah mengharapkan dunia”. Ketika kita berhenti menginginkan dunia, kita mengubah harapan kita. Ketika harapan kita berkurang, kita akan merasa lebih bahagia.

Tetapi apakah kita termotivasi? Manusia kehilangan motivasi karena mereka mengharap total, berbeda dengan mengubah atau mengurangi harapan. Lihatlah orang-orang yang kehilangan harapan, mereka menjadi orang-orang yang putus asa, tidak termotivasi, dan tidak mau bergerak.

Guru saya, Abu Syukri Pango, menganjurkan kami senantiasa mengingat Allah dan menyerahkan seluruh urusan dunia dan akhirat pada Allah. Kami diajari untuk mengingat Allah yang berhak mengatur dunia dan seisinya.

Beliau juga mengatakan bahwa depresi dan kesedihan terjadi karena kita banyak memikirkan masa lalu atau masa depan. Ketika kita berhenti hidup di masa lalu dan berhenti berandai-andai, kita dapat melepaskan diri dari depresi dan kesedihan.

Seperti para santri yang bergembira. Mereka menghafal tanpa kenal lelah dan melakukan banyak kegiatan meski kadang-kadang terpaksa. Tapi tak masalah, karena mereka terlalu sibuk dengan aktivitas mereka untuk memikirkan masa lalu dan menghayalkan masa depan.

Mungkin sudah seharusnya kita hanya bekerja semaksimal mungkin, beristigfar sebanyak -sebanyaknya atas perbuatan di masa lalu dan berserah sepenuhnya kepada Allah atas segala sesuatu yang akan terjadi di masa hadapan. Wallahu a’lam bissawab.

 

*Penulis adalah Santri Dayah Raudhatul Hikmah Al Waliyah, Peserta Pelatihan Penulisan Ilmiah yang dilaksanakan oleh Disdik Dayah Banda Aceh, 15-17 Agustus di Hotel Kyriad Muraya Aceh